Hening Cipta Karomani dan Segepok Cuan Berbicara

Berita Online - Dunia pendidikan kembali tercoreng. Ironi terjadi dalam disiplin ilmiah. Satu kasus memalukan (profesor itu mungkin tidak merasa malu) akibat praktik suap.

Di sini, kasus suap yang melibatkan nama Karomani, profesor sekaligus rektor tanpa maksud untuk meredupkan wajah-wajah semringah di dunia pendidikan.

Andaikan Nietzsche nongol di kampus merdeka, yang disandang oleh salah satu perguruan tinggi negeri sudah lain kisahnya.

Singkatnya, dari ‘palu berbicara’ di tangan dingin Nietzsche menjadi cuan alias uang berbicara.

Sedangkan di dunia pendidikan saja main suap, korup. Lalu, bagaimana yang lain?

Nietzche pun dengan palu berbicara pada si pelahap cuan berbicara. Kembali Nietzsche menepuk dahinya. Aduh! Bagaimana jika palu dan cuan tidak berbicara?

Sedikit kata-kata ini mengekor ke Nietzsche. Olalah, cuan jadilah berbicara! Atau abaikanlah! Kita tinggalkan dulu Nietzsche.

Mula-mula tidak berbicara, karena keajimumpunan yang nekat ketika yang tersangka kasus suap tergiur oleh cuan berbicara.

Rupanya, sang profesor itu tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya. OTT (Operasi Tangkap Tangan) yang dilakukan oleh aparat lebih sigap, mencium aroma tidak sedap sambil memasang kuping untuk menguntit pembicaraan orang penting.

Ketika pihak tersangka mengetahui atau tidak, maka mereka lari menjauh saat OTT mendatanginya. Tetapi, lari mendekat saat cuan berbicara.

Bukan seseorang yang membujuk rayu, tetapi cuanlah yang menggoda seseorang. Ia berubah menjadi rayuan maut.

Jika sudah begini peristiwanya, bagaimana cara berpikir kita?

Setelah cuan berbicara meluap-luap di institusi pendidikan, apakah perlu ‘kaki kiri’ masuk dan ‘kaki kanan’ keluar dari kantor atau kampus? Ia serupa dengan analogi jamban (Water Closet/WC), dimana kaki kiri mendahului kaki kanan.

Lain halnya dalam skandal kebenaran, yang dihubungkan dengan tanda. Yaitu, ada kemiripan antara sosok profesor dan pendakwah manapun.

Profesor sebagai tanda keilmuan yang sudah mumpuni, guru besar dalam disiplin tertentu. Sedangkan, pendakwa sebagai tanda keilahian yang diserukan keluar, yang menghimpun segenap kebajikan darinya.

Pada taraf nilai tanda, keduanya berbeda. Makin tinggi nilai ilmiah dan nilai agama seseorang, makin kuat pula godaannya. Ini juga mungkin sejenis paradoks picisan.

Sangat kecil tercipta keintiman, jika hanya setan pikiran kelas teri yang bisa menggoda profesor. Mustahil setan dekil yang mampu menipu daya sosok pendakwah.

Tatkala tinggi nilai ilmu atau tinggi nilai ketaatan agama seseorang, maka kejahatan besar pula yang melingkarinya.

Anggap saja ini bukan dongeng. Godaan cuan dengan cara berbicara yang khas bisa menembus kuatnya logam.

Aura keilmuan tidak lagi memancarkan cahaya keberkahan lantaran tergoda oleh kepentingan sesaat. Kasus suap itu telah menutup pintu kebenaran ilmiah.

Kasus suap di institusi pendidikan, di tingkat perguruan tinggi dalam kacamata Foucaldian disebut relasi kuasa.

Sistem pendidikan dipengaruhi oleh kuasa, titik dimana relasi antara rektor atau pimpinan perguruan tinggi dan mahasiswa. Ada mekanisme kuasa yang tersembunyi.

Sayangnya, relasi antara kuasa dan pengetahuan yang produktif, pendidik dan peserta didik yang kreatif dibajak oleh penggila suap penerimaan mahasiswa baru.

Ternyata, tatkala cuan berbicara tidak memandang siapa pun dia. Secara khusus, ada celah sang profesor saat tidak berpikir rasional lagi, yang membuatnya lengah setengah hidup, diantaranya cuan yang berbicara.

Bisa saja terjadi pada diri Profesor Karomani, yang dia sendiri tidak membayangkan sebelumnya. Kadangkala ada orang agak usil dengan mengatakan lagi apes sosok nomor satu di perguruan tinggi.

Secuil peristiwa kelam itu menyelimuti ‘revolusi mental’, yang secara intens digiati oleh Profesor Karomain bukanlah reka-rekaan.

Tercatat, Profesor Karomain diamanahi sebagai Ketua Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa, yang bersuara untuk menanamkan integritas yang tinggi.

Secara tidak langsung, sosok Karomain tidak hidup di atas “menara gading” karena posisi intelektual, yang membuatnya terpanggil untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya kejujuran, toleransi, dan penghargaan atas perbedaan.

Saat intelek yang menyesatkan memenuhi keseharian seseorang, maka seluruh jejak peristiwa kehidupannya adalah absurd, palsu, dan sia-sia.

Apa yang disuarakan hingga bergema keluar tidak lebih kuat getarannya ketimbang cuang berbicara. Cuan berbicara membagi dua dunia. Satu dunia nyata, lainnya dunia khayalan.

Satu sisi, dunia nyata dari cuan berbicara atau suap menegaskan realitas kedirian. Sisi lain, dunia khayalan menciptakan ‘efek permukaan’ dari cuan berbicara atau suap agar lebih nyata.

Rencana besar tinggal rencana, cuan berbicara yang menentukan.

Dunia nyata dan dunia khayalan yang menanggung ejekan dari orang yang memiliki intelek. Sosok dekaden dalam kedirian yang dilarutkan oleh kejahatan suap.

Boleh juga dia hidup nyentrik dan moncer dengan segudang prestasi akademik yang telah dirahi. Memiliki fasilitas hidup yang cukup, sehingga memudahkan untuk menjalani aktivitas merupakan hal yang wajar, sejauh pemenuhannya melalui cara dan tujuan yang terhormat.

Namun demikian, di atas segalanya, dia juga mesti dibarengi dengan kekuatan dirinya yang tidak tergoyahkan untuk menolak suap.

Dalam kenyataannya, main suap dianggap sepeleh di tengah kelangkaan menghadirkan sosok panutan, apalagi di bidang pendidikan. Meminjam istilah dalam film Naga Bonar: “Apa kata dunia?”

Segepok demi segepok, akhirnya menjadi ratusan juta rupiah cuan mengalir keluar dari kocek melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri.

Pihak KPK mengendus praktik suap penerimaan mahasiswa baru sudah berlangsung lama.

KPK dengan fakta-fakta atau bukti-bukti yang ditemukan selama proses penyidikan menunjukkan dugaan kuat atas praktik suap.

Bagi KPK, mengenai alasan terhadap dugaan suap ditandai dengan ketidakukuran, ketidaktransparanan, dan ketidakakuntabelan proses seleksi penerimaan mahasiswa baru membuat titik celah munculnya prilaku koruptif.

Malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat dirahi semestinya menjadi pelajaran dari kasus suap, yang menyeret sosok Karomain. Wahai suap! Jadilah “musuh bersama”, bukan jadilah cuan berbicara!

Kisah Karomain adalah separuh nurani dan separuh lagi petualangan sosok dekaden yang termaafkan. Dia menyerempet-nyerempet bahaya yang dari kasus suap.

Merajalelanya suap sebagai perilaku koruptif tidak terlepas dari ketidakhadiran sistem. Kasus suap atau skandal korupsi masih tetap perlu ditangani secara sistemik karena berurat akar.

Bukankah perilaku koruptif atau suap menyuap yang dipicu oleh dorongan niat, kesempatan, dan tahu bagaimana caranya? Dari hasil diskusi di hari-hari yang sudah berlalu, awal terjadinya suap datang dari mental seseorang.

Konyolnya, mental yang tidak beres itu seakan-akan berlindung dibelakang ungkapan yang mengatakan, bahwa “uang pelicin” alias suap adalah zamannya sekarang yang berbicara.

Akutnya cuan berbicara merupakan tantangan tersendiri. Sehingga kita bisa tampil ke depan dengan cara menggoda antek-antek cuan berbicara agar tidak tergoda oleh suap dengan segala wujudnya.

Terpikat terhadap cuan itu nyata. Akan tetapi, seseorang menjadi tersangka gegara praktik suap, ia juga bisa menguap dan semu adanya.

Belajar dari sosok Karomain dibalik kasus suap tidak berarti KPK bekerja sendirian. Melihat masa depan mesti juga dimulai dari upaya sungguh-sungguh untuk menutup setiap celah sekecil-kecilnya celah masuknya suap atau cuan berbicara.

Memang, seperti mengurai benang kusut, perilaku suap harus diberantas dengan kekuatan besar dan bersama yang tidak mengenal lelah untuk menuntasnya dari segala penjuru. Kewaspadaan terhadap cuan berbicara dengan cara pencegahan itulah alurnya.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------