Minimalkan Oknum Perusak Citra Polri, Ciptakan Pribadi yang Menginspirasi

Berita Online - Drama pengungkapan kasus narkoba yang pelakunya oknum polisi kembali mewarnai pemberitaan. Setelah sebelumnya oknum polisi berpangkat AKP, menjabat Kasat Narkoba, ditangkap tim Ditpidnarkoba Mabes Polri pada tanggal 11 Agustus 2022 di sebuah apartemen di Karawang, tanggal 22 Agustus 2022 kembali terjadi penangkapan oknum polisi oleh tim Propam Polda Jatim.

Penyalahgunaan narkoba oleh oknum polisi, boleh jadi merupakan indikasi adanya fenomena gunung es, sebagaimana banyak pengungkapan kasus pidana oleh oknum abdi hukum. Ada nuansa ironis yang barangkali terasa sensitif ketika kasus pidana justru terjadi pada oknum aparat penegak hukum. Dan meskipun dampaknya cukup rawan digeneralisir sebagai cerminan Polri secara umum, terapi kejut seperti ini penting menjadi program unggulan.

Cukup dimengerti oleh publik, bahwa kebijakan tidak populer dari institusi yang rawan terjadi penyalahgunaan wewenang, penyimpangan perilaku oleh segelintir oknum petugas, meskipun pahit namun berdampak baik terhadap citra institusi bersangkutan.

Ketua Kompolnas yang juga Menko Polhukam Mahfud MD mengaku diberikan informasi menarik oleh pegiat survey, khususnya terkait fluktuasi citra Polri. Ketika sebuah kasus yang seakan-akan berpotensi memojokkan Polri, namun jika penyelesaiannya berjalan akuntabel dan transparan, menurut Mahfud justru akan membuat Polri menuai pujian.

Dampak positif yang digambarkan di atas, barangkali akan menjadi bekal bagi para pengambil keputusan, tidak hanya di instansi tertentu melainkan secara umum di jajaran pelaksana pelayanan publik.

Bahwa dalam rangka menjaga kewaspadaan institusional, terapi kejut oleh pemegang tugas khusus terhadap petugas dengan kualifikasi tertentu, harus dilakukan secara acak, dan jika memungkinkan dengan periode atau momentum yang tidak mudah diprediksi. Dalam hal ini pelaksanaan terapi seperti itu tidak menganut penjadwalan yang baku.

Kasus-kasus yang melibatkan oknum apparat hukum memang selalu memancing reaksi luas, entah karena keprihatinan atau ada sentimen ironi tadi. Bahwa ibarat pagar makan tanaman, penegak hukum justru melanggar hukum.

Terlepas dari reaksi negatif yang bersumber dari kekecewaan publik, momentumnya haruslah dimanfaatkan secara efektif. Jika peristiwa tak biasa diabaikan begitu saja tanpa ada upaya perbaikan sistematis, maka kerawanan bukan hanya bisa dirasakan oleh masyarakat. Kerawanan berupa krisis kepercayaan bisa muncul baik dari pihak eksternal maupun internal.

Sebagai ilustrasi mungkin akan lebih mudah dimisalkan sektor tertentu dari institusi yang sama lebih dipercaya oleh publik dibandingkan yang lainnya, maka ada ekses negatif yang berpotensi mendelegitimasi institusi publik secara umum.

Direktur eksekutif Lemkapi, Dr Edi Hasibuan membuat kajian menarik sebagai berikut :


Sebagaimana kajian Lemkapi, seandainya komitmen Polri terjaga, khususnya dalam hal menjaga integritas pribadi anggotanya, citra Polri sebagai institusi penegak hukum akan semakin baik.

Dari pengalaman interaksi dengan lingkungan kitapun, selalu ada fluktuasi antara kepercayaan kepada individu tertentu dibandingkan dengan individu lainnya. Demikian juga halnya dengan kepercayaan publik terhadap Polri. Polri sebagai lembaga yang dihuni berbagai latar belakang individu beserta dinamikannya, harus diberikan kesempatan untuk selalu menyempurnakan soliditas mereka.

Cukup logis juga ketika ada pepatah “kepala ikan akan membusuk paling dulu”, dalam konteks menjaga soliditas Polri, barangkali sangat penting membina calon-calon pimpinannya secara sistematis dalam hal integritas kepada profesi. Dengan keteladanan pimpinan maka kesatuan terkecil hingga Mabes pun dengan sendirinya taat dan patuh pada pimpinan mereka.

Sebagaimana fitrah manusia yang sering terinspirasi dari manusia lainnya, maka dalam sistem pembinaan calon pimpinan, Polri haruslah mempersiapkan mereka sebagai sumber inspirasi untuk satuannya. Ada kecenderungan bagi mereka yang mendekati karakter ideal sebagai pimpinan, yakni komitmen yang kuat kepada integritas pribadi, demikianlah karakter yang harus terbentuk dari pola pembinaan itu.

Teori inspirasi mengatakan : “Seringkali inspirasi datang dari luar, terutama dari dorongan-dorongan eksternal yang membuat kita merasa lebih terinspirasi dan termotivasi. Selain itu, inspirasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses yang menekan dan merangsang otak manusia untuk berpikir dan bertindak secara kreatif. Inspirasi seperti ini biasanya didapat ketika kita melihat perilaku orang lain jauh lebih kreatif daripada yang kita lakukan, sehingga kita merasa lebih terinspirasi dan juga ingin melakukan hal yang sama atau lebih dari orang tersebut”.

Karakter calon pimpinan yang mendekati ideal kira-kira seperti yang tergambar dalam teori tadi, yakni menjadi motivator dan sumber inspirasi untuk satuannya.

Sumber : https://seword.com/umum/minimalkan-oknum-perusak-citra-polri-ciptakan-j4mvgNqurK

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------